Kinerja Asuransi Syariah Melambat Selama Pandemi

Kinerja industri asuransi syariah cukup tertekan sepanjang tahun lalu akibat pandemi Covid-19. Kondisi tersebut tercermin dari beberapa indikator, salah satunya pertumbuhan aset industri asuransi syariah yang melambat hingga akhir 2020. 

Per Desember 2020, aset asuransi syariah tercatat sebesar Rp 44,44 triliun, turun 2,2 persen dibandingkan posisi Desember 2019 yang mencapai Rp 45,45 triliun. Namun secara kuartalan, aset asuransi syariah tumbuh 7,9 persen dari Rp 41,16 triliun pada kuartal III 2020. 

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Industri Asuransi Jiwa Syariah Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Haryo Pamungkas mengatakan penurunan ini masih dalam batas wajar. "Alhamdulillah Asuransi syariah masih bisa bertahan di tengah sentimen pandemi," kata Haryo, Senin (15/2). 

Dari total aset industri asuransi syariah, porsi terbesar ditopang oleh asuransi jiwa syariah yang mencapai 80,98 persen atau Rp 36,32 triliun. Sedangkan porsi asuransi umum syariah mencapai 13,53 persen atau Rp 6 triliun lalu disusul reasuransi syariah dengan porsi 4,75 persen atau sebesar Rp 2,11 triliun. 

Selain dari segi aset, indikator lainnya yang mengalami perlambatan yaitu investasi. Pertumbuhan investasi asuransi syariah pada tahun lalu turun 6,2 persen dari Rp 39,84 triliun pada Desember 2019 menjadi Rp 37,33 triliun pada Desember 2020. 

Penurunan paling tajam yaitu dari sisi laba. Secara umum, industri asuransi syariah mengalami penurunan laba sebesar 80,5 persen menjadi Rp 792 miliar pada posisi Desember 2020 dibandingkan dengan Desember 2019 senilai Rp 4,07 triliun. 

Sementara itu, pendapatan kontribusi bruto industri asuransi syariah dibukukan meningkat pada Desember 2020 yakni sebesar Rp 17,34 triliun dari Rp 16,70 triliun pada Desember 2019. Menurut Haryo, hal ini menunjukkan optimisme industri asuransi untuk meraih pencapaian pendapatan kontribus tetap terwujud dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. 

Sejalan dengan peningkatan kontribusi, klaim bruto industri asuransi syariah juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada tahun lalu. Pada Desember 2020, pembayaran klaim tercatat senilai Rp 12,9 triliun atau naik 21,8 persen dari posisi Desember 2019 yang hanya Rp 10,6 triliun.

"Meski demikian, klaim yang terjadi dalam masa pandemi dan pasca RKPUS adalah dalam taraf wajar terjadi di industri asuransi syariah," kata Haryo.

Tingkat pengembalian investasi atau ROI asuransi syariah mengalami peningkatan yang signifikan. Pada Desember 2020, ROI industri ini mencapai 2,32 persen, sedangkan pada periode yang sama tahun 2019, ROI asuransi syariah minus 0,83 persen.

Turut hadir Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Erwin Noekman mengungkap bahwa potensi pertumbuhan industri asuransi syariah pada 2021 terbuka, didorong beberapa sentimen positif, yakni munculnya halal value chain.

"Pertama, kami lihat pemerintah punya enam kawasan industri halal, kami harap segala hal yang berkaitan dengan KIH ini berkaitan dengan ekosistem syariah, sehingga asuransi syariah bisa ikut masuk melengkapi layanan dalam ekosistem," ungkapnya.

Kedua, yakni keberadaan Bank Syariah Indonesia yang baru dibentuk di mana kegiatan-kegiatan keuangan yang berada di dalamnya melibatkan asuransi syariah.

Ketiga, dikenalnya tren penerbitan sukuk di Indonesia yang tentunya berkaitan erat dengan proyek dan agunan yang tentu butuh proteksi asuransi. Terakhir, asuransi syariah mulai terbuka dengan pemanfaatan produk berkaitan dengan wakaf.

Adapun potensi secara jangka panjang, berasal dari kebijakan bahwa asuransi syariah masuk ke dalam salah satu yang dibuka dalam Protokol to Implement the 7th Package of Commitment on Financial Under AFAS (Asean Framework Agreement on Services).

"Asuransi syariah jadi yang pertama kali dibuka. Nanti, pada 1 Januari 2025, di mana pemain regional boleh memasarkan produk secara langsung ke kawasan Asean tanpa perlu perwakilan dan SDM. Indonesia bisa ke sana? Tentu bisa. Kami perlu anggap ini sebagai tantangan," tutupnya.

Source :

Komentar

Postingan Populer